KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Lebih dari 80 Nyawa Melayang dalam Konflik Buddha-Islam di MYANMAR

Yangon, Lebih dari 80 orang dilaporkan tewas dalam serangkaian aksi kekerasan sektarian bulan ini di wilayah barat Myanmar. Namun jumlah ini masih bisa bertambah mengingat hingga saat ini, konflik berdarah antara warga penganut Buddha dan Islam di Rakhine itu masih mengancam keselamatan warga.

Seperti dilansir oleh AFP, Kamis (21/6/2012), otoritas setempat menyebutkan, sekitar 71 orang tewas dalam kekerasan sektarian yang terjadi lebih dari seminggu ini. Jumlah tersebut ditambah dengan 10 warga muslim yang tewas dibunuh oleh gerombolan warga penganut Buddha pada 3 Juni lalu.

Insiden 3 Juni itu disebut-sebut sebagai aksi balas dendam atas pemerkosaan dan pembunuhan seorang wanita Buddha setempat.Parahnya, insiden 3 Juni itu juga telah memicu kekerasan sektarian di Myanmar kembali terjadi hingga saat ini. Kedua belah pihak sama-sama menuding bahwa kekerasan yang terjadi dimulai oleh kelompok yang berlawanan.

Yang terbaru, pada Senin (18/6) lalu, dua pria dijatuhi hukuman mati atas kasus pemerkosaan dan pembunuhan yang terjadi pada 3 Juni tersebut. Namun hal ini tidak berpengaruh apapun. Kekerasan sektarian masih saja terjadi di Myanmar, terutama di wilayah Rakhine.

Aksi kerusuhan hingga pembakaran mengguncang Rakhine sejak beberapa minggu terakhir. Warga Rakhine yang mayoritas penganut Buddha, menyebut warga muslim Rohingya sebagai imigran gelap dari Bangladesh dan seringkali menjuluki mereka dengan ‘Bengalis’.

Dalam kekerasan terbaru di wilayah tersebut, polisi menemukan 8 jasad warga penganut Buddha di desa Yathedaung, sekitar 65 km dari Sittwe, ibukota Rakhine. “Orang-orang ini tewas dalam bentrokan dengan Bengalis,” terang seorang pejabat setempat kepada AFP.

Sementara itu, pemimpin muslim Rohingya menuturkan, korban tewas dari pihak mereka lebih banyak dari angka yang disebutkan oleh otoritas setempat.

Hingga Rabu malam, otoritas setempat menyatakan bahwa situasi di sejumlah wilayah Rakhine telah bisa dikendalikan. Namun, seorang warga setempat mengungkapkan hal yang sebaliknya. Menurut warga tersebut, suasana di Sittwe sangat tegang dan mencekam, serta diwarnai oleh aksi pembakaran sebuah rumah warga di malam hari.

“Kami membutuhkan keamanan. Warga tidak bisa tidur di malam hari karena mereka ketakutan. Warga telah meminta pemerintah untuk menerjunkan sejumlah petugas keamanan di wilayah mereka saat malam hari, namun belum ada respons dari pemerintah setempat,” tutur warga tersebut melalui telepon kepada AFP.

(nvc/ita)

Single Post Navigation

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: