KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Muhamad saw menikahi gadis cilik (6th)

Mungkin sudah bukan rahasia lagi bahwa Muhamad saw menikahi Aisyah pada saat usia Aisya masih sangat belia (6th).

Silahkan anda bisa telaah kembali hadist-hadist dibawah ini.

Aisyah binti Abubakar Al Sidiq (Menikah 622/623M, Umur:Tunangan 6 th, Nikah: 9 tahun)

Hadis Sahih Muslim vol.2 book 8 no.3451 p.747; Bukhari vol.3 book 34 ch.4 no.269 p.154; vol.3 no.853 p.29; Sahih Muslim vol.2 book 7 no.2958 p.651; Sahih Muslim vol.2 footnote 1918 p.748 mengatakan bahwa: kemungkinan ‘Aisha dinikahi Muhammad sebelum Sauda, namun ‘Aisha tidak memasuki Rumah Muhammad hingga Sauda di nikahi Muhammad

Aisyah dinyatakan diperistri pada bulan syawal, tujuh bulan setelah hijrah dari mekah ke meddinah. Riwayat-riwayat banyak menuturkan bahwa Aisyah adalah istri kesayangan Nabi hingga Nabi wafat dipangkuannya. Ketika Muhammad wafat, dia berumur 18 tahun dan Aisah meninggal diumur 57 tahun.

Dalam Al-Kutub At-Tis’ah, riwayat Hadits yang disandarkan kepada ‘Âisyah berjumlah 5965. Hadits riwayat ‘Âisyah terdapat di semua kecuali di dua tema Sahih Al-Bukhari, di Sahih Muslim terdapat dalam 43 tema, di Sunan An-Nasaiy, terdapat dalam 41 tema, diAt-Tirmizi terdapat dalam 38 tema, di Ibn Majah terdapat 30 tema, di Abû Dawud terdapat 29 tema, di Ad-Darimiy terdapat dalam 20 tem dan di Al-Muwatta’ memuat 20 tema.

Dalam kalangan islam sendiri pendapat mengenai usia pernikahan Aisyah terbagi menjadi 3:

Kelompok yang Mempercayai dan mengamini tindakan muhammad yang menikahi aisah pada usia 6 tahun dan mengaulinya pada usia 9 tahun
Kelompok yang melakukan pembelaan bahwa aisah sudah haid dan boleh “digauli”
Kelompok yang menganggap cerita itu hanya Dongeng belaka (tidak ada pernikahan antara aisah dan muhammad)

Bukti-Bukti Hadis SAHIH Bahwa Aisyah menikah umur 9 Tahun

Sahih Bukhari Volume 7, Book 62, Number 64:

Diceritakan oleh Aisha:

Bahwa Nabi menikahinya ketika ia berusia enam tahun dan berhubungan suami istri ketika dia berusia sembilan tahun, dan dia tetap menjadi istrinya selama sembilan tahun (yaitu sampai kematian nya (Nabi) )

Sahih Bukhari Volume 7, Book 62, Number 65

Diriwayahkan ‘Aisha:

‘bahwa nabi menikahinya saat ia ENAM TAHUN dan ia melaksanakan perkawinan saat ia SEMBILAN TAHUN. Hisham mengatakan : Saya diberitahu bahwa ‘Aisha tinggal bersama nabi selama 9 tahun …’

Sahih Bukhari Volume 7, Book 62, Number 88

Diriwayahkan ‘Ursa:

Nabi menulis kontrak perkawinan dengan ‘Aisha saat ia ENAM TAHUN dan melangsungkan perkawinan dengannya saat ia SEMBILAN TAHUN dan ia tinggal dengan nabi selama 9 tahun…

SAHIH MUSLIM #3309 aisha meriwayahkan:

Rasulluah menikahiku ketika aku berumur 6 tahun dan kerumahnya di usia 9

Sahih Muslim. Book 8. Marriage. Hadith 3310.

‘A’isha mengatakan: rasulullah (saw) menikahi saya ketika saya berusia ENAM TAHUN dan saya masuk rumahnya ketika saya berusia SEMBILAN TAHUN’.

Sahih Muslim Buku 008, Nomer 3327:

‘A’isha (Allah memberkatinya) melaporkan bahwa Rasul Allah menikahinya ketika ia berusia tujuh tahun, dan ia (Muhammad) membawanya ke rumahnya sebagai pengantin ketika ia berusia sembilan tahun, dan boneka2nya dibawanya, dan ketika ia (Muhammad) wafat, ia (A’isha) berusia delapanbelas tahun.

Sunan Abu Dawud, Vol. 2, #2116:

Aisyah berkata. “Rasulluah mengawiniku saat usiaku 7 tahun” (Periwayat Sulaiman berkata: ‘atau 6 tahun’). Ia berhubungan badan dengan ku saat aku berusia 9 tahun’

Ibn-i-Majah vol.3 no.1876 hal.133

Aisha baru berusia enam tahun ketika menikah, dan ketika usianya sembilan tahun barulah ia dibawa ke rumah Muhamad.

Detail mengenai kapan Ia menikah dan beberapa lama Nabi dimedinah di sampaikan sebagai berikut:

Sahih Bukhari Volume 5, Book 58, Number 236.

Diriwayatkan ayah Hisham:

Khadijah wafat 3 tahun sebelum nabi berangkat ke Medinah. Ia tinggal disana selama 2 tahun dan ia menikahi ‘Aisha ketika ia gadis ENAM TAHUN dan ia melangsungkan perkawinan ketika ia SEMBILAN TAHUN.

Mubarakfury, halaman 185:

… Rasulullah … menikah dengan Aisyah ….. Ketika itu Aisyah berumur enam tahun. Kemudian pada bulan Syawal tahun pertama hijrah, beliau mulai menggaulinya, di Madinah. Ketika itu Aisyah berumur sembilan tahun.

Abbas Jamal, halaman 21:

Umur Aisyah waktu itu baru menginjak 7 tahun … tetapi beliau baru serumah dengan Aisyah sebagai suami istri setelah terjadinya hijrah ke Madinah kurang lebih tiga tahun kemudiannya. Bagi Aisyah puteri Abu Bakar yang masih lugu ……

Bukhari vol. 5, #234 says:
Juga dituliskan yang kurang lebih sama artinya di sahih Muslim no. 2547

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:

Rasulullah saw. menikahiku pada saat aku berusia enam tahun dan beliau menggauliku saat berusia sembilan tahun. Aisyah ra. melanjutkan: Ketika kami tiba di Madinah, aku terserang penyakit demam selama sebulan setelah itu rambutku tumbuh lebat sepanjang pundak. Kemudian Ummu Ruman datang menemuiku waktu aku sedang bermain ayunan bersama beberapa orang teman perempuanku. Ia berteriak memanggilku, lalu aku mendatanginya sedangkan aku tidak mengetahui apa yang diinginkan dariku. Kemudian ia segera menarik tanganku dan dituntun sampai di muka pintu. Aku berkata: Huh.. huh.. hingga nafasku lega. Kemudian Ummu Ruman dan aku memasuki sebuah rumah yang di sana telah banyak wanita Ansar. Mereka mengucapkan selamat dan berkah dan atas nasib yang baik. Ummu Ruman menyerahkanku kepada mereka sehingga mereka lalu memandikanku dan meriasku, dan tidak ada yang membuatku terkejut kecuali ketika Rasulullah saw. datang dan mereka meyerahkanku kepada beliau.

Nabi pun sempat memuji “legitnya” Aisha adalah seperti tharid (hidangan roti dan daging) yang tidak ada bandingannya.

Sahih Bukhari. Volume 4, Book 55, Number 623

dirawayahkan Abu Musa:

Rasullulah berkata, ’Banyak para lelaki mencapai (tingkat) kesempurnaannya namun tidak diantara para wanita mencapai tingkat itu kecuali Asia, Istri dari Pharaoh dan Mary anak dari Imran dan tidak diragukan lagi superioritas Aisah dari wanita-wanita lainnya ia bagaikan keunggulan rasa dari Tharid (sejenis Dagind dan Roti yang renyah) dibandingkan dengan makanan lainya.

Aisah saat itu masih belum Puber, masih main Ayunan, main boneka:

Tabari IX:128

Ketika Nabi mengawini Aisha, ia sangatlah muda dan belum siap untuk melakukannya.

Sahih Bukhari Volume 8, Book 73, Number 151

Dinyatakan ‘Aisha:

Aku biasa bermain dengan boneka2 di depan sang Nabi, dan kawan2 perempuanku juga biasa bermain bersamaku. Kalau Rasul Allah biasanya masuk ke dalam (tempat tinggalku) mereka lalu bersembunyi, tapi sang Nabi lalu memanggil mereka untuk bergabung dan bermain bersamaku. (Bermain dengan boneka2 atau bentuk2 yang serupa itu dilarang, tapi dalam kasus ini diizinkan sebab Aisha saat itu masih anak kecil, belum mencapai usia pubertas) (Fateh-al-Bari halaman 143, Vol.13)

Sunan Abu-Dawud Buku 41, Nomer 4915

Dinyatakan Aisha, Ummul Mu’minin:

Sang Rasul Allah menikahiku ketika aku berusia tujuh atau enam tahun. Ketika kami tiba di Medina, beberapa wanita datang,

menurut versi Bishr: Umm Ruman datang padaku ketika saya sedang bermain ayunan. Mereka memandangku, mempersiapkanku, dan mendandaniku. Kemudian aku dibawa ke Rasul Allah, dan ia hidup bersamaku sebagai suami istri ketika aku berusia sembilan tahun. Ia (Umm Ruman) menghentikanku di pintu, dan aku meledak tertawa.

Ia pun masih suka main boneka ketika Nabi pulang dari perang

Sunan Abu Dawud. Book 36. General Behavior. Hadith 4914.

Diriwayatkan oleh Aisha, Ummul Mukmin: ketika Rasullulah tiba dari ekspedisi ke Tabuk atau Khaibar (periwayat ragu), tirai lemari penyimpanan barang aisa terangkat dan terlihat beberapa boneka kepunyaannya

Nabi berkata: Apa ini? Ia menjawab: bonekaku, diantaranya ada mainan kuda dengan sayap dari potongan kain, dan nabi berkata: Apa ini? Ia menjawab: kuda. Nabi berkata: apa yang ada padanya? Ia mejawab: dua sayap. Nabi bertanya: Kuda dengan dua sayap? Ia menjawab: Tidak engkau pernah mendengar bahwa Sulaiman mempunyai kuda bersayap? Ia berkata: Setelah itu Rasullulah tertawa begitu lebarnya sehingga kudapat melihat hingga gigi gerahamnya

Alasan Muhammad mengawini Aisha adalah untuk memperkuat tali persaudaraan dengan “saudara angkatnya” Abu Bakr

Terjemahan Ali Audah, Cetakan keduapuluh delapan terbitan Litera AntarNusa, ISBN:979-8100-02-6) Halaman 151:

Muhammad Melamar Aisyah

…… Masa berkabung terhadap Khadijah itu pun sudah pula berlalu. Terpikir olehnya akan beristri, kalau-kalu istrinya itu kelak akan dapat juga menghiburnya, dalam mengobati luka dalam hatinya, seperti dilakukan Khadijah dulu. Tetapi dalam hal ini ia melihat pertaliannya dengan orang-orang Islam yang mula-mula itu harus makin dekat dan perlu dipererat lagi. Itu sebabnya ia segera melamar putri Abu Bakr, Aisyah. Oleh karena waktu itu ia masih gadis kecil yang baru berumur tujuh tahun, maka yang dilangsungkan baru akad nikah, sedang perkawinan berlangsung dua tahun kemudian, ketika usianya mencapai sembilan tahun.

Halaman 206:

Perkawinan Nabi dengan Aisyah:

…… Ketika itulah Muhammad menyelesaikan perkawinannya dengan Aisyah bt. Abu Bakr, yang waktu itu baru berusia sepuluh atau sebelas tahun [note: di hal 151, dikatakan berumur 9]. Ia adalah seorang gadis yang lemah-lembut dengan air muka yang manis dan sangat disukai dalam pergaulan. Ketika itu ia sedang menjenjang remaja putri, mempunyai kegemaran bermain-main dan bersukaria. Pertumbuhan badannya baik sekali. Pertama ia pindah ke tempatnya yang sekarang di samping tempat Sauda di sisi mesjid, ia melihat Muhammad adalah seorang ayah yang penuh kasih-sayang, seorang suami yang penuh cinta-kasih. Ia tidak keberatan ikut bermain-main dengan barang-barang mainannya itu..

Alasan itu tidak valid karena Abu Bakar sebelumnya menyatakan keberatannya dengan pernikahan ini karena mereka adalah saudara angkat. Padahal Nabipun pernah menolak tawaran dari Hamza, ‘saudara angkatnya’ juga, untuk menikahi puterinya:

Sahih Bukhari. Volume 7. Book 62. No. 18

Diriwayatkan Ursa:

Nabi meminta Abu bakar untuk memperkenankan Ia menikahi Aisha. Abu bakar berkata ‘Namun Aku kakak mu’ Nabi menjawab.’ Kau kakakku di agama Allah dan di kitabnya, namun dia (aisah) diperkenankan bagiku untuk mengawininya’

Abu Bakr sebenarnya tidak salah karena dalam tradisi bangsa Arab persaudaran walaupun saudara angkat sama artinya dengan saudara kandung. Demikian juga dengan anak angkat. Adalah tabu mengawini anak saudara angkat atau isteri anak angkat menurut moral bangsa2 Arab pada waktu itu. Namun Nabi Muhammad sendiri pun menolak saat di tawari untuk menikah dengan anak Hamza (yang juga adalah saudara angkat seperti halnya Abu Bakr) dengan alasan bahwa anak Hamza adalah keponakan angkatnya (Padahal Aisha juga adalah keponakannya):

Sahih Bukhari. Volume 7, Book 62, Number 37:

Diriwayatkan Ibn ‘Abbas:

Di katakan kepada Nabi, ‘Kenapa tidak mengawini anaknya Hamza?’ Ia berkata, ‘Ia (anak perempuan Hamza) adalah keponakan angkatku.’

Single Post Navigation

One thought on “Muhamad saw menikahi gadis cilik (6th)

  1. warnetsabily on said:

    tidakkah Anda pernah membaca ini?
    http://kapansitiaisyahmenikah.tk/

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: