KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Mubahalah Muhamad Saw

Kita pasti tahu apa itu MUBAHALAH.

QS 3:61
Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.

Mubahalah ialah masing-masing pihak di antara orang-orang yang berbeda pendapat berdoa kepada Allah Swt dengan sungguh-sungguh, agar Allah Swt menjatuhkan laknat kepada pihak yang berdusta. Nabi mengajak utusan Nasrani Najran bermubahalah tetapi mereka tidak berani dan ini menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad saw .

Muhammad Saw akan mengutuki para pendeta Najran, dan sebaliknya para pendeta Najran disuruh oleh Muhammad Saw untuk mengutuki dirinya.

Ya jelas saja pendeta Najran menolak, karena perbuatan kutuk-mengutuk adalah perbuatan yang tidak baik, bertentangan dengan ajaran nabi mereka, Yesus, yang mengajarkan kasihilah musuhmu, dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

Sekarang yang perlu kita telaah adalah: Bagaimanakah Muhammad seorang nabi, malah memberi contoh tabiat yang tidak baik kepada lawannya?

Tidak ada nabi-nabi Tuhan zaman dahulu yang perilakunya seperti Muhammad.

Tidakkah dengan menantang mubahalah, sama saja Muhamad Saw menunjukan kelemahan?

Kembali ke masalah QS 3:61, tentang orang-orang Najran yang menolak ikut mubahalah yang diadakan Muhammad Saw.

Anda tentu tahu, apa latar belakang Muhammad mengadakan mubahalah?

Mari kita telaah perlahan-lahan.

Muhammad Saw dalam situasi bagaimanakah ketika dia dikunjungi oleh utusan Najran? Dia dalam keadaan full power, karena kala itu dia telah sukses menjadi ORANG NOMOR SATU di Madinah, disegani oleh orang-orang Yahudi (bani Quraizah, Nadir, Qainuqa), diangkat menjadi HAKIM & RAJA KECIL oleh para pengikutnya, setelah dia dengan gemilang menang perang dibadar dengan bani Quraish Mekkah.

Kenapa tiba-tiba ada utusan Najran datang mengunjungi Muhammad Saw di Madinah? Itu karena seruan jihad Muhammad terhadap Najran, agar penduduk kota itu bersedia menerima Muhammad sebagai Rasulnya Allah Swt dan masuk Islam. Muhammad Saw memberi opsi: Masuk Islam, atau tunduk pada kekuasaannya dengan membayar upeti.

Para pendeta Nasrani dari Najran itu khusus datang mengunjungi Muhammad untuk melihat dan menguji secara langsung kebenaran berita tentang kenabian Muhammad.

Di antara mereka kemudian terjadi soal-jawab, dan ujung-ujungnya, Muhammad Saw dibuat patah arang, tidak mampu memberi jawaban.

Pertanyaan apa yang diajukan oleh pendeta Najran kepada Muhammad? Yaitu tentang SEJARAH YESUS, siapa dia dan siapa orang tuanya.

Muhammad tidak mampu memberikan jawaban, kecuali dengan mengarang ayat Ali-Imran 59 sampai 62.

QS 3:59-62
Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia. (Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.
Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah; dan sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Bisa dipastikan, karena cerita Muhammad Saw tentang sejarah Yesus berbeda dengan apa yang telah diimani oleh umat Kristen turun-temurun (salah satunya tentang cerita kelahiran Yesus di bawah pohon kurma yang bertolak belakang), menjadikan mereka ragu akan kebenaran kenabian Muhammad Saw.

Ketika sampai pada pertanyaan: SIAPAKAH AYAH YESUS?
Muhammad tidak bisa menjawab. Karena dirinya terdesak itulah, Muhammad menjadi kalap dan menantang MUBAHALAH kepada para pendeta utusan Najran itu.

Dengan seketika, mubahalah diadakanlah oleh Muhammad Saw yang sedang dalam amarah.
Tentu saja, MUBAHALAH itu membawa suasana panas di antara pengikut Muhammad, yang ujung-ujungnya, bisa dipastikan, berakibat buruk bagi keselamatan ketiga pendeta utusan Najran.

Sudah dipastikan, apabila Muhammad Saw telah melontarkan kata-kata kutuknya kepada mereka, di mana itu sama halnya dengan memberi aba-aba perang kepada pengikut-pengikutnya, maka yang datang melaknat bukan kuasa Ilahi, melainkan perang dan penganiayaan oleh para pengikut Muhammad Saw.

Maka dari itu, ada 2 kemungkinan mengapa para pendeta utusan Najran itu tidak bersedia ikut mubahalah yang diadakan Muhammad Saw:

1) Karena dalam ajaran nabi mereka, tidak dibenarkan kutuk-mengutuk.
2) Mereka melihat kemurkaan dari balik wajah Muhammad itu, sehingga hal itu sangat berbahaya bagi keselamatan jiwa mereka.

Nah, maka dari itu, catatan kaki yang disertakan dalam kitab Alquran adalah sebuah penafsiran lugu dari ulama Arab. Mereka menafsirkan ketidaksediaan pendeta Nasrani mengikuti Mubahalah yang diadakan oleh Muhammad itu sebagai BUKTI KEASLIAN MUHAMMAD sebagai NABI TUHAN. Tidakkah ini cara berpikir yang tidak masuk akal dan kurang cerdas? Dasar pertimbangan apa yang dipakai oleh ulama Arab menafsirkan demikian? Apakah kenabian seseorang bisa dianggap sahih kalau pembuktian yang dilakukan dengan mengandalkan kekerasan dan kekuasaan manusia?

Bagaimana bisa dianggap benar, kalau caranya salah?

Seorang nabi, tidak perlu dia memaksakan kehendak, orang-orang secara otomatis sudah tahu dari tingkah laku dan sepak terjangnya kalau dia nabi.

Kembali ke tafsir QS 3:61.

Saya akan kutipkan tafsir Jalalain atas peristiwa mubahalah ini.

فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَةَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ (61)
(Siapa yang membantahmu) mendebatmu dari golongan Nasrani (tentang hal itu setelah datang kepadamu ilmu) dengan perintah-Nya (maka katakanlah) kepada mereka (Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri-diri kami dan diri-diri kamu) lalu kita kumpulkan mereka (kemudian mari kita bermubahalah) artinya berdoa dengan khusyuk dan dengan merendahkan diri (sambil memohon supaya kutukan Allah ditimpakan-Nya kepada orang-orang yang dusta) yaitu dengan mengatakan, “Ya Allah, kutukilah orang yang dusta tentang peristiwa Isa.”

Nabi saw. telah mengajak utusan Najran untuk itu, yakni tatkala mereka membantahnya dalam hal tersebut. Jawab mereka, “Kami akan memikirkannya dulu, kemudian akan datang kepada anda.” Kata salah seorang yang berpikiran sehat di antara mereka, “Tuan-tuan telah mengetahui kenabiannya, dan tidak suatu pun kaum yang mengadakan mubahalah dengan seorang nabi kecuali mereka akan celaka.”

Ditinggalkannyalah orang tadi, lalu mereka berpaling. Mereka datang lagi menemui Nabi saw. yang ketika itu sudah keluar siap bermubahalah bersama Hasan, Husein, Fatimah dan Ali. Nabi saw. berkata kepada orang-orang Nasrani Najran, “Jika saya berdoa, aminkanlah.” Tetapi ternyata pihak lawan tidak bersedia berkutuk-kutukan itu hanya minta berdamai dengan membayar upeti.

Riwayat Abu Na`im dan diterima dari Ibnu Abbas, katanya, “Seandainya orang-orang Nasrani Najran itu bersedia meneruskan mubahalah niscaya mereka akan kembali ke negerinya sedangkan harta dan keluarganya tiada lagi.” Diriwayatkan pula bahwa sekiranya mereka bermubahalah niscaya akan terbakar.

Anda lihat, pencatat kisah tersebut sudah tahu hal apa yang bakal akan menimpa orang-orang Nasrani itu seandainya mereka bersedia mengikuti mubahalah itu. Akan terjadi peperangan besar.

Sebab-sebab Turun (Tafsir Jalalain):

Baihaqi mengetengahkan dalam Dalail dari jalur Salamah bin Abdu Yasyu’ dari bapaknya seterusnya dari kakeknya bahwa Rasulullah saw. menulis surat kepada warga Najran, yakni sebelum diturunkan kepadanya surat Thasin, “Atas nama Tuhan dari Ibrahim, Ishak dan Yakub, dari Muhammad yang nabi…” (intinya mengajak warga Najran mengakui Muhammad Rasul dengan cara masuk Islam)

Di dalamnya disebutkan, “Maka orang-orang Najran itu mengutus Syurahbil bin Wadaah Al-Hamdani, Abdullah bin Syurahbil Al-Ashbahi dan Jabbar Al-Hartsi kepada Nabi saw. Perutusan ini berangkat mendatangi Nabi saw. sehingga mereka pun saling bertanya jawab. Demikianlah tanya jawab ini terus berlangsung sampai mereka menanyakan, ‘Bagaimana pendapat Anda tentang Isa?’ Jawab Nabi saw., ‘Sampai hari ini tak ada suatu pun pendapat saya mengenai dirinya. Tinggallah tuan-tuan di sini dulu sampai saya dapat menerangkannya!’

Ternyata esok paginya Allah telah menurunkan ayat ini, ‘Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah…,’ sampai dengan firman-Nya, ‘…seraya kita memohon agar laknat Allah itu ditimpakan-Nya kepada orang-orang yang dusta.'” (Q.S. Ali Imran 59-61)

Ibnu Saad mengetengahkan dalam kitab Thabaqat dari Azraq bin Qais, katanya, “Telah datang kepada Nabi saw. uskup negeri Najran bersama bawahannya, kepada mereka ditawarkannya agama Islam, Mereka menjawab, ‘Sebelum Anda, kami telah Islam.’ Jawab Nabi saw., ‘Bohong! Ada tiga perkara yang menghalangi tuan-tuan masuk Islam, yakni ucapan tuan-tuan bahwa Allah mempunyai anak, memakan daging babi dan sujud kepada patung.’ Tanya mereka, ‘Siapakah bapak dari Isa?’ Rasulullah tidak dapat menjawab sampai Allah menurunkan, ‘Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah…,’ sampai dengan firman-Nya, ‘…dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tangguh lagi Maha Bijaksana.’ (Q.S. Ali Imran 59-62)

Nabi mengajak mereka untuk saling kutuk-mengutuk, tetapi mereka menolak dan setuju akan membayar upeti lalu mereka pun kembali.”

Muhammad menantang mubahalah lantaran dirinya kalah debat dengan para pendeta Najran.

Begitu pula Muslim. Muslim menantang kita untuk mubahalah, karena dia sudah kepepet dan tidak tahu bagaimana caranya membela nabi Saw. Kutuk-mengutuk adalah bentuk pelampiasan kekesalan hati. Seandainya kita tidak di dunia maya, tentu Muslim sudah bawa parang untuk bacok kita.

Maka dari itu, MUBAHALAH adalah CERMINAN DARI SIFAT JAHAT.

Muslim tidak merasa kalau dengan Mubahalah, justru membuktikan Muhammad bukan utusan Tuhan.

Terbukti para pendeta Najran tidak mau masuk Islam, mereka lebih memilih membayar upeti kepada Muhammad.

Para pendeta Najran itu tidak beralih masuk Islam, karena mereka tahu Muhammad seorang pembohong. Begitu pula penduduk kota Najran.

Di kemudian hari penduduk Najran diperangi oleh Muhammad.

Pemaksaan Agama di Najran, Yemen Utara oleh Khalid b. Walid—February, 632M

Penyerangan ini terjadi di hari2 terakhir hidup Muhammad, saat berlangsungnya masa “damai Islami” di Medina. Muhammad mengirim Khalid ke Najran, di daerah Utara Yemen untuk menyerang B. al-Harith b. Ka’b untuk mengajak masyarakat Najran (yang beragama Kristen dan pagan dan tidak punya perjanjian damai dengan Muhammad) memeluk Islam atau harus berperang melawan Muslim. Najran terkenal akan komunitas Kristennya yang besar dan makmur. Terdapat banyak orang pagan tinggal bersama orang2 Kristen dengan damai. Semua masyarakat Najran berasal dari suku B. al-Harith. Setibanya di Najran, Khalid mengumumkan ancaman, memberi masyarakat Najran waktu 3 hari untuk memilih masuk Islam atau mati.

Dia mengumumkan, “Wahai orang2, terimalah Islam, dan kau akan selamat.”[Tabari, vol.ix, p.82 ] Masyarakat Najran tak punya banyak pilihan selain masuk Islam. Khalid tinggal bersama mereka untuk beberapa lama dan mengajar Qur’an dan Sunnah dari Muhammad. Lalu Khalid menulis surat kepada Muhammad bahwa masyarakat Najran masuk Islam di bawah ancaman pedang. Muhamad senang mendengar masyarakat B. al-Harith masuk Islam dengan hanya diancam dan tidak usah diperangi segala. Dia membalas menulis surat kepada Khalid untuk memerintahkannya kembali ke Medina dan membawa rombongan utsan B. al-Harith. Ketika Khalid datang bersama rombongan utusan, Muhammad bertanya kepada Khalid siapakah orang2 ini sebab muka mereka lebih mirip orang India. Ketika Khalid mengatakan kepada Muhammad bahwa mereka adalah orang2 Arab Yemen, Muhammad mengomeli mereka berulang-kali karena mereka dulu melawan Muhammad. Dia berkata, “Jika Khalid b. al-Walid tidak menulis surat padaku bahwa kalian telah menyerah dan tidak melawan, sudah kubanting kepala2 kalian ke bawah kakiku.” [Tabari, vol.ix, p.84 ]

Masyarakat B. al-Harith adalah keturunan budak2 dan mereka tidak pernah melakukan penyerangan atau perampokan. Tapi Muhammad bersikeras menuduh mereka dahulu melawannya sebelum dia menjadi kuat. Akan tuduhan ini mereka menjawab, “Wahai Rasul Allah, kami dahulu biasa mengalahkan mereka yang menyerang kami karena kami adalah keturunan para budak dan kami bersatu, tidak terpecah-belah, dan tidak pernah melakukan hal yang jahat kepada siapapun.” Muhammad akhirnya setuju dengan yang mereka katakan dan dia menunjuk Qays b. al-Husayn sebagai pemimpin baru B. al-Harith.

Muhammad menunjuk Amr b. Hazm al-Ansari untuk mengajar B. al-Harith tentang Islam dan untuk mengumpulkan Zakat dari mereka. Dia menulis beberapa perintah kepada Amr sebelum Amr berangkat ke Najran: untuk memenuhi kontrak (Q 5:1), takut akan Allah (Q 16:128), hanya yang bersih yang boleh menyentuh Qur’an (Q 56:79), bersikap tegas pada mereka yang tidak adil dan memberitahu orang2 akan kabar baik tentang surga (Q 11:1 dan memperingatkan mereka akan neraka, melarang orang2 untuk sembahyang dengan mengenakan satu pakaian kecuali jika pakaian itu ujungnya dapat dilipat sampai ke bahu, tidak boleh meminta kepada suku2 musuh tapi minta hanya kepada Allah saja, siapa yang minta tolong kepada suku2 musuh harus dibunuh pakai pedang, melakukan wudhu dengan menggunakan banyak air, sembahyang tepat waktu, melakukan Ghusl sebagai kewajiban untuk boleh sembahyang bersama, penagih pajak berhak 1/5 dari barang jarahan dan Zakat dari hasil ladang – 1/10 dari hasil ladang yang diairi oleh sungai dan hujan, 1/20 dari ladang yang diairi dengan kantung kulit, 2 domba bagi tiap 10 unta, 1 sapi dari setiap 40 sapi dan 1 sapi jantan dari setiap 30 sapi, 1 domba dari setiap 40 domba yang digembalakan.

Versi lain dari penaklukkan ini mengatakan bahwa al-Harith adalah seorang pendeta Kristen yang tidak mau masuk Islam. Lalu utusan mereka datang ke Medina untuk mendiskusikan tentang masalah ketuhanan. Dikatakan bahwa para Muslim kaget dan bingung melihat kemewahan pendeta B. al-Harith ketika dia datang ke Medina. Allah menurunkan Q 3:61 untuk menegur mereka yang bertengkar dengan RasulNya. [Rodwell p.438, note 19] Akhirnya, al-Harith dan orang2nya setuju untuk bayar pajak Jizya agar tidak dibunuh. Muhammad menerima keputusan mereka dan utusan Kristen kembali ke Najran.[Mubarakpuri, p.527]

Pajak Jizya ditentukan sebesar 1 dinar (atau boleh diganti dengan pakaian2) untuk setiap orang dewasa, laki atau perempuan, merdeka atau budak. Jika orang Yahudi atau Kristen tidak mau bayar Jizya maka mereka menjadi musuh Allah (dan tentunya boleh dibunuh).

Single Post Navigation

3 thoughts on “Mubahalah Muhamad Saw

  1. sangat jauh dari kebenaran dan menyesatkan, mudah2an mendapat hidayah

  2. masalahnya si pendeta nasrani tdk mau di ajak muhaballa karena si pendeta itu sudah tau kalau yesus itu bukan tuhan…. makanya sipendeta takut di ajak muhaballah…. begitu aja jawabnya koq muntar muntir lidahnya…..

  3. mudah”an dapt hidayah

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: