KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Zikir dan Pengobatan Menggunakan Tasbih Dalam Islam


Dalam pemakaian Tasbih (Subha) serta penyebarannya secara bertahap di seluruh dunia Islam, kita juga menemukan bukti tahyul Animisme. Menurut Dr. Goldziher: “Secara umum diakui bahwa penggunaan tasbih, yang diimpor ke dalam Islam, tidak diadopsi para murid Muhammad sampai abad ke-3 Hijriah (622M). Bagaimanapun, kisah berikut bisa dikutip terkait hal ini: ketika Kalif Abbasid, Al Hadi, (169-170 H) melarang ibunya, Chejzuran—yang mencoba memaksakan pengaruhnya untuk ambil bagian dalam urusan negara, ia menggunakan kata-kata berikut: ‘Bukanlah urusan perempuan untuk ikut campur dalam urusan negara; engkau harus mengisi waktumu dengan berdoa dan subha-mu.’”

Dari cerita ini, terlihat pasti bahwa di abad itu pemakaian subha sebagai instrumen ibadah merupakan hal umum hanya di kalangan kelas inferior dan tidak punya tempat di kalangan terpelajar. Ketika tasbih ditemukan diantara barang-barang milik seorang ulama sufi terkenal, Abu-l-Kasim al-Junaid (210-298 H), orang-orang menyerangnya karena menggunakan ini, walaupun ia termasuk golongan atas. Ia berkata, “Aku tak bisa menyerahkan benda yang membuatku lebih dekat pada Tuhan.” Tradisi ini melengkapi kita dengan fakta langka karena menunjukkan bahwa, di satu sisi penggunaan tasbih merupakan hal lazim, bahkan di kalangan atas, dan di sisi lain para penganut Islam melihat inovasi asing yang dilindungi para kaum alim ulama ini dengan rasa tidak senang. Bagi mereka itu adalah wasbia’a, yakni suatu inovasi tanpa pondasi dari sunnah Islam lama, dan akibatnya menimbulkan saling tidak percaya di kalangan ortodoks.

Bahkan di kemudian hari, ketika penggunaan tasbih dihentikan dalam waktu lama karena menimbulkan ketidakpuasan di kalangan Islam ortodoks, para kontroversialis yang berprinsip menyerang segala bentuk ‘inovasi,’ masih saja curiga, tak percaya akan segala sesuatu yang dianggap berlebihan. Namun, sebagaimana segala hal yang pada awalnya tidak ditoleransi dalam hal keagamaan, tasbih menyeruak dari ruang religius pribadi masuk jauh ke jantung mesjid-mesjid

Abu Abdullah Mohammed al-‘Abdari, yang meninggal 737 A.H., menulis sebuah karya yang terdiri dari 3 volume berjudul ‘Al-Madkhal,’ yang berisikan sejumlah besar hal-hal menarik tentang kehidupan pribadi masyarakat Islam, tahyul dan kebiasaan populer mereka; dan harus dipelajari oleh semua orang yang tertarik pada sejarah dan peradaban Islam di Timur. “Diantara berbagai inovasi tersebut,” tulis al-‘Abdari, “tasbih perlu diperhatikan. Sebuah kotak dibuat khusus untuk menyimpan tasbih; gaji diberikan kpd orang yang menjaga dan menyimpannya; dan bagi mereka yang menggunakannya untuk Zikr….Seorang Sheikh khusus ditunjuk untuk itu, dengan gelar Sheikh al-Subha, dan pelayannya digelari Khadim al-Subha. Inovasi ini cukup modern. Sang imam (mesjid setempat) ditugaskan untuk menekankan kebiasaan seperti itu karena berada di wilayah kekuasaannya.”

Tradisi-tradisi lain memperlihatkan pada kita nabi memprotes beberapa perempuan beriman yang menggunakan batu-batu kecil disaat mengucapkan kata-kata berulang itu (zikir), serta menganjurkan mereka menggunakan jari-jari untuk menghitung kata-kata tersebut. “Hendaklah mereka menghitung zikirnya dengan jari-jari mereka (ja’kidna bil anamil); karena pahala akan diambil dari mereka.”

Semua sindiran yang terdapat dalam tradisi ini menunjukkan ketidaksetujuan terhadap penggunaan tasbih. Penggunaan batu-batu kecil dalam ibadah tampaknya merupakan bentuk asli subha, persis dengan fungsi tasbih. Diriwayatkan bahwa Abu Huraira mengucapkan Tasbih di rumahnya dengan bantuan batu-batu kecil yang ia simpan dalam kantong (jusabbih biha). Dengarkan pula kata-kata Abdallah, putra Kalif Umar, yang ditujukan pada mereka yang menggerakkan batu-batu di tangannya saat sholat (juharrik al-Hasa Bijedihi), “Jangan lakukan itu, karena itu dibisikkan iblis.”

Tidakkah zikir pernah dihitung dengan cara ini sebelum tasbih ditemukan? Tidak dapat dipastikan. Bagaimanapun, sangat mungkin tradisi yang menentang kebiasaan ini bermula saat tasbih diperkenalkan kedalam Islam. Kaum Buddhis Tibet, jauh sebelum era Kristen, menggunakan rangkaian manik-manik, umumnya berjumlah 108 dan terbuat dari permata, katu cendana, kulit kerang, dan semacamnya sesuai status si pemilik. Apakah Islam mengadopsi penggunaan tasbih dari India selama penaklukan Islam masih belum pasti, namun tidak mustahil.

Mengenai penggunaan Rosario dlm agama Kristen, kita baca: “Kebiasaan mengucapkan doa ‘Bapa Kami’ secara berulang muncul dalam kehidupan biara di Mesir dimasa awal, dan dicatat oleh Palladius dan Sozomen. ‘Salam Maria’ atau ‘Ave Maria,’ di sisi lain, menjadi doa regular pertama kali di paruh kedua abad ke tujuh, walau baru di abad ke-13 diadopsi secara umum. Tambahan kata-kata Elizabeth, ‘dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus.’ (Lukas 1:42), dan Salam Malaikat, ‘Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu’ (Lukas 1:28), pertama kali disebut sekitar tahun 1130; namun Uskup Odo dari Paris (1196-1208) menghendaki pengucapan doa Salam Maria bersama doa Bapa Kami dan Pengakuan Iman Rasuli sebagai kebiasan tetap Kristen.

Doa penutup, ‘Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin.’ dikembangkan secara bertahap di abad ke-16, dan bahkan dianggap dewan Besancon (1571) sebagai kebiasan yang agak berlebihan namun saleh. Fakta-fakta memperlihatkan bahwa tradisi yang menganggap penemuan Rosario berasal dari Benedict of Nursia, Bede, atau Peter the Hermit, tidak dapat dipercaya, demikian pula tradisi serupa yang dipegang Ordo Dominikan yang mengatakan bahwa Dominikus menerima penglihatan dari Perawan Maria, yang memerintahkannya memperkenalkan penggunaan Rosario. Di saat yang sama Rosario awalnya merupakan bagian penting dalam tata ibadah Ordo Dominikan; walau munculnya pertama kali jauh setelah meninggalnya pendiri ordo; namun, walau beberapa praktek ibadah mungkin dipengaruhi oleh perkenalan antara Kristen Timur dengan Tasbih Islam, semua karakteristik pengucapan doa Bapa Kami, serta meditasi yang menyertainya hanya dapat dijelaskan dengan menerapkan ide-ide Kristen secara khusus.” 9

Tasbih dalam Islam saat ini digunakan untuk tiga tujuan berbeda: 1) untuk mengetahui kehendak Allah; 2) dan digunakan secara magis untuk kesembuhan. 3) Tujuan ketiga, disebut Istikhara. Ini terkait salah seorang istri Muhammad yang berkata, “Nabi mengajar kita Istikhara, yakni mengetahui apa yang terbaik, sebagaimana ia mengajari kita ayat-ayat dari Kitab, dan jika salah seorang daripadamu menginginkan sesuatu, hendaklah ia berwudhu dan sholat dua rakk’at serta membaca ayat: ‘Tidak ada Tuhan selain, dsbnya.’

Untuk menggunakan tasbih dengan cara ini, hal-hal berikut harus diperhatikan:
Tasbih harus digenggam di kedua telapak tangan, yang kemudian digosok bersamaan; selanjutnya Fatiha dilafalkan dengan khidmat, dan setelahnya si pengguna meniup tasbih dengan nafasnya agar kekuatan magis surah tersebut masuk ke untaian. Kemudian ia memegang butir tertentu dan menghitung ke arah butir ‘penunjuk’ sambil mengucapkan kata-kata Allah, Muhammad, Abu Jahal; bila hitungan berakhir dengan nama Allah, itu berarti permohonannya diterima. Jika berakhir dengan nama Abu Jahal berarti maknanya buruk, dan jika berakhir dengan nama Muhammad berarti jawabannya masih meragukan. Yang lain menganggap lebih tepat bila menggunakan tiga kata berikut: Adam, Hawa, iblis. Bila berakhir dengan nama Adam, menunjukkan persetujuan; berakhir dengan iblis, tidak setuju; dan berakhir dengan Hawa, ketidakpastian, karena pertimbangan perempuan berubah-ubah. Penggunaan tasbih ini hampir bersifat universal di kalangan masyarakat biasa di Afrika Utara dan Mesir.

Edwin Arnold menyematkan 99 nama Allah dalam bukunya mengenai tasbih Islam yang berjudul ‘Pearls of the Faith.’ Ia bercerita tentang sebuah upacara yang dipraktekkan diantara umat Islam India pada acara-acara khusus yang dinamai dalam bahasa Arab, Subha, biasanya malam hari setelah acara pemakaman. Arwah seharusnya masih berada di dalam tubuh, dan setelahnya dikirim ke Hades (dunia orang mati/barzakh), berada disana menunggu hari kiamat. Upacara tersebut digambarkan sbb: “Pada malam hari, sebanyak lima puluh orang berkumpul, dan salah satu membawa tasbih yang terdiri dari 1000 butiran, setiap butiran sebesar telur merpati.

Kemudian sebelum mulai membaca surah 67 (al-Mulk) Quran, mereka berkata sebanyak tiga kali, ‘Allah itu esa,’ kemudian mereka membaca surah terakhir, dan setelahnya berkata sebanyak tiga kali, ‘Ya Allah, rahmatilah ciptaanmu yang paling mulia dan paling bahagia, junjungan kita Muhammad, dan keluarganya dan para sahabatnya, dan peliharakanlah mereka.’ mereka tambahkan, ‘Semua yang mengingat Engkau adalah orang yang sadar, dan mereka yang mengabaikan Engkau adalah orang yang lalai.’ Selanjutnya mereka mengulang sebanyak 3000 kali ucapan, ‘La-illa ha-ilallah’ (Tidak ada tuhan selain Allah), salah seorang memegang tasbih dan menghitung setiap pengulangan.

Setelah setiap 1000 kali pengulangan, mereka kadangkala beristirahat dan minum kopi. Setelah itu, selanjutnya mereka mengucapkan sebanyak 100 kali: ‘(Aku memuji) kesempurnaan Allah dengan pujiannya’ ; kemudian 100 kali: ‘Aku mohon pengampunan Allah Maha Besar’ ; kemudian 50 kali: ‘Kesempurnaan Allah yang Abadi’ ; ‘Kesempurnaan Allah Maha Besar’ dan selanjutnya Quran surah 37, tiga ayat terakhir. Kemudian dua atau tiga darwis membaca dua atau tiga ayat lagi. Setelah selesai, salah seorang bertanya, ‘Sudahkah kalian memindahkan (kebaikan dari apa yang kalian bacakan) kepada arwah orang yang meninggal?’ Mereka menjawab, ‘Sudah’ serta menambahkan, ‘Rahmat atas para rasul.’ Ini mengakhiri upacara, yang bila diselenggarakan di rumah orang kaya, akan diulang lagi di malam kedua dan ketiga.

Di Aljazair, tasbih digunakan oleh Taleb untuk meramalkan apakah orang yang sedang sakit akan meninggal atau tidak. Butiran dihitung tiga-tiga, jika menyisakan satu, harus dihitung ulang dua-dua, bila berakhiran genap pasien akan hidup, bila menyisakan satu, berarti kematian. Tasbih yang dianggap sebuah benda suci tidak pernah digunakan dalam sihir vulgar.

Di Tunisia, peramal menandai tasbih dengan benang dan menghitung butiran sambil melantunkan kata-kata tertentu, kadangkala nama-nama ayah atau ibu orang yang sakit. Informasi yang diperlukan diperoleh dari jumlah butiran yang tersisa setelah lantunan; jika tersisa tiga, berarti penyakit; jika dua berarti sehat.

Mr. G.B.A. Gardener dari Cape Town berkata, “Tasbih kadangkala dikenakan di leher sebagai obat untuk penyakit. Yang paling banyak digunakan terbuat dari kayu cendana yang katanya dari Mekah. Untuk tujuan magis, tasbih digunakan dengan menghitung.”

Miss G.Y. Holliday dari Tabriz, Persia, memberikan informasi berikut: “Tasbih digunakan untuk memutuskan jenis pengobatan yang harus diambil, dokter mana yang harus dipanggil, apakah nasehatnya harus diikuti atau tidak, dsbnya. Juga digunakan untuk segala urusan kehidupan, disebut melakukan istikhara. Dalam penggunaannya, tangan menggenggam butir pertama yang terjangkau; dan dari butir tersebut mereka menghitung ke arah Khalifa, atau butir terbesar yang merupakan butir paling menonjol, seraya mengatakan ‘buruk, baik.’ Butir terakhir yang memberi keputusan.”

Di Jawa, tasbih digunakan untuk menyembuhkan orang sakit atau untuk menginduksi penyakit. Dengan tasbih di tangan, seseorang membaca salah satu surah Quran hingga ayat ke-15. Ayat ini dianggap mengandung kekuatan magis, dan sementara ayat ini dibacakan, tasbih dihitung dan hasilnya menyusul.

Di Mesir, tasbih digunakan secara luas untuk menyembuhkan orang sakit. Dalam hal ini nilainya bergantung pada bahan dari apa butir-butir tersebut dibuat. Yang dibuat dari kayu biasa atau nacre (lapisan dalam kulit kerang) tidak berharga, tapi tasbih yang dibuat dari jet/yusr (batu koral padat) atau kuk (sejenis kayu tertentu dari Mekah) berharga. Di Mesir, baik di kalangan Koptik maupun Muslim, tasbih digunakan untuk menyembuhkan ‘retensi urine pada anak-anak.’ Tasbih dikalungkan pada leher bayi atau diletakkan di atap di bawah cahaya bintang untuk diembunkan, setelah itu dicelup di air yang kemudian diberi minum ke anak yang sakit.

“Di India,” tulis Mr. K.I. Khan dari Poona, “tasbih digunakan untuk melindungi dari kekuatan jahat dan bahaya-bahaya lain. Kadang-kadang dicelup di air yang diminum sebagai obat oleh yang sakit.”

Kita perlu mengingat kata-kata Warneck: “Penyembahan berhala animisme bukanlah tahap perpindahan ke suatu agama yang lebih tinggi. Saya rasa saya telah mengemukakan cukup fakta untuk memperlihatkannya, dan fakta tidak lenyap sebelum hipotesis. Biarlah mereka mengajukan fakta-fakta untuk membuktikan bahwa penyembahan berhala animisme di suatu tempat, entah dengan cara apa, berevolusi menuju ke arah pengetahuan yang lebih murni akan Tuhan. TAPI faktanya, berbagai bentuk Animisme yang saya ketahui tidak mengarah kepada kesempurnaan, melainkan tidak diragukan lagi, adalah tanda degenerasi.” 10

 

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: